Minggu, 28 Mei 2017

Teori Etika Lingkungan Hidup

Kehidupan manusia dengan lingkungan hidup mempunyai hubungan yang  sangat erat. Hubungan ini sangat tergantung dan dipengaruhi oleh pandangan manusia terhadap lingkungan hidup tsb. Ada beberapa teori tentang pandangan manusia terhadap lingkungan hidup yaitu :
1.  Antroposentrisme
•   Menempatkan manusia sebagai pusat, semuanya demi kepentingan manusia. Teori ini juga disebut human centered ethics
•   Alam sebagai object dan alat untuk pencapaian tujuan manusia
•   Manusia bisa sesukanya untuk berbuat dan mengendalikan alam demi kepentingan dirinya.
•   Alam dianggap penting kalau menguntungkan manusia akan tetap dipelihara, namun bila tidak penting dan demi kepentingan manusia, alam bisa dihancurkan
•   Teori ini yang menyebabkan kehancuran alam, hutan, dan lingkungan , sehinga muncullah gerakan untuk melindungi lingkungan alam, green peace
 2. Biosentrisme
•   Menempatkan alam memiliki nilai dalam dirinya. Teori ini bertentangan dengan Antroposentrisme.
•   Biosentrisme mendasari moralitas pada keluhuran kehidupan kepada semua mahluk hidup, tidak hanya manusia. Semua kehidupan di dunia ini memiliki moral dan nilai yang sama sehingga harus dilindungi, diselamatkan dan dipelihara sebaik mungkin.
•   Semua mahluk hidup bernilai dalam kehidupan untuk itu semua mahluk hidup, apalagi manusia harus menjaga dan melindungi semua kehidupan dan lingkungan di sekitarnya
•   Manusia bukan merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan
•   Manusia bukan merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan sama pentingnya sehingga manusia harus menghargai lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya, dan turut melestarikan komunitas ekologis dengan baik.
•   Biosentrisme disebut juga intermediate environmental ethics

3.  Ekosentrisme
•   Teori ini merupkan lanjutan dari Biosentrisme. Dalam Biosentrisme hanya memusatkan kepada pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme memusatkan perhatian kepada seluruh komunitas biologis yang hidup maupun yang tidak.
•   Pandangan ini didasari oleh pemahaman ekologis bahwa mahluk hidup maupun benda abiotik saling terkait satu sama lainnya.  Udara,air sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
•   Untuk itu semua mahluk hidupan dan benda-benda saling tergantung  dan mempengaruhi satu dengan lainnya.
•   Ekosentrime memliki pandangan yang lebih luas yaitu komunitas ekologis seluruhnya. Ekosentrisme menuntut tanggungjawab moral yang sama untuk semua realitas biologis.
•  Ekosentrime juga disebut deep environmental ethics
Tanggung jawab terhadap lingkungan hidup
•  Manusia bertanggung jawab terhadap pemeliharaan lingkungan hidup, karena bila ekosistem terganggu maka akan menggangu eksistensi manusia. Untuk itu menusia harus dapat menjaga dan melestarikan lingkungan hidup
•  Memelihara dan melestarikan lingkungan hidup bukan hanya sekedar masalah sosial, ekonomi, politik, estetika, dan lain sebagainya, namun lebih daripada itu, masalah lingkungan hidup yaitu masalah moral sehingga dituntut pertanggung jawaban moral. Untuk itu perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab sebagai suatu kewajiban bahkan kebutuhan manusia dalam hidupnya.
•  Contoh nyata dalam kehidupan yaitu :
1.       Memelihara lingkungan dengan tidak membuan sampah sembarangan.
2.      Tidak menebarkan polusi sembarangan
3.      Memelihara lingkungan dengan tidak membuan sampah sembarangan.
4.       Tidak menebarkan polusi sembarangan, tidak merokok di sembarangan tempat
5.      Menjaga kebersihan lingkungan rumah, kampus, kali, di manapun
6.      Tidak menebang pohon sesukanya
•  Masih banyak tindakan lain yang sangat merugikan dan dapat mengancam lingkungan hidup
•   Akibat yang ditimbulkan akibat tidak menjaga lingkungan hidup dengan baik yaitu :
1.      Banjir sangat merugikan kehidupan manusia; materi, nyawa, lingkungan hidup dan segala aspek kehidupan lainnya.
2.      Tanah longsor kecelakaan yang merugikan kehidupan manusia
3.      Pencemaran udara mendatangkan penyakit, merugikan kehidupan manusia
4.      Pencemaran air  membunuh, dan membawa penyakit bagi mahluk hidup di dalam air, dan mahluk hidup yang menggunakan air
•   Secara umum, bila manusia tidak menjaga lingkungan hidup dengan baik maka akan terjadi banyak bencana bagi kehidupan manusia sendiri dan semua mahluk hidup lainnya. Dampak tersebut berupa :
1.      Akumulasi bahan beracun, di udara maupun di air
2.      Efek rumah kaca
3.      Perusakan lapisan ozon
4.      Hujan Asam
5.      Deforestasi dan pengurunan
6.      Punahnya keanekaan hayati
Manusia sebagai agen perubahan
•   Sebagai mahluk yang tertinggi manusia sangat berpengaruh terhadap kehidupan di atas bumi ini. Untuk itu manusia harus bisa mengendalikan kehidupan alam dan lingkungan, sebaik mungkin agar semua lingkungan berjalan harmoni dan eksiss
•   Manusia sebagai mahluk penyeimbangan lingkungan
•  Sebagai mahluk yang tertinggi manusia sangat berpengaruh terhadap kehidupan di atas bumi ini. Untuk itu manusia harus bisa mengendalikan kehidupan alam dan lingkungan, sebaik mungkin agar semua lingkungan berjalan harmoni dan eksis
•  Manusia harus dapat melestarikan lingkungan demi kehidupan lingkungan itu sendiri. Pengaruh ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi harus diimbangii dengan pelestarian lingkungan hidup dengan tetap memelihara, dan menjaga keseimbangan alam.
•  Saat ini gerakan green peace hanya untuk melestarikan lingkungan. Munculnya pemanasan global (global warming ) sudah sangat menggangu dan bahkan bisa mempunahkan kehidupan mahluk hidup di bumi ini.
•  Untuk itu manusia sebagai mahluk yang mengendalikan kehidupan harus bisa dan mau menjaga keseimbangan kehidupan.
Mengelola dan melestarikan lingkungan hidup
•  Agar lingkungan hidup tetap lestari maka manusia harus bisa mengelolanya dengan sebaik mungkin. Manusia harus membunyai kesepakatan secara bersama di seluruh dunia untuk mengelola dan melestarikan lingkungan.
•  Kesepatakan ini sudah dimulai dengan gerakan dan kesepakatan yang dilakukan oleh bangsa2 di dunia yaitu :
1.      World Environment Movement ( 1972 ) . Gerakan kesadaran ekologi secara bersama di dunia yang diprakarsai oleh PBB yang mengadakan konferensi Gerakan Lingkungan Hidup Sedunia di Stockholm 5 – 16 Juni 1972, yang diperingati sebagai hari Lingkungan Hidup sedunia.
2.      Konferensi Rio de Janerio ( 1992). Konferensi Rio de Janerio yang disebut sebagai KTT Bumi untuk penyelematan lingkungan hidup
3.      Kesepatakan ini sudah dimulai dengan gerakan dan kesepakatan yang dilakukan oleh bangsa2 di dunia yaitu :
1.      Protokol Kyoto ( 1997 ) yang mulai membicarkan perubahan iklim yang disebabkan oleh ketidak-seimbangan lingkungan hidup
Global Warming Expo yang diselengarakan di Nusa Dua Bali pada tanggal 8 – 14 Desember 2007. yang membicarakan ttg pemanasann global yang terjadi saat ini di dunia. Apa yang bisa dilakukan oleh manusia. Agar hal ini bisa ditangani dengan baik.

4.      Deep Ecology
Deep Ecology adalah filsafat baru atau Ecosophy yang bertumpu pada perubahan dari antroposentrik menjadi gerakan lingkungan murni. Filsafat ini ditandai dengan tafsir baru tentang identitas manusia dengan cara  menghilangkan dualisme rationalistik antara manusia dan lingkungannya. Karenanya, Deep Ecology menekankan pada nilai-nilai intrisik pada spesies lain, sistem dan proses proses yang terjadi di alam.
Posisi ini melahirkan pandangan system ekosentrik pada etika lingkungan hidup. Deep Ecology menyebutkan dirinya sebagai “deep” karena ia mempertanyakan hal-hal kompleks dan spiritual tentang peran manusia di ekosfir.
Ekologi telah mempertontonkan kepada kita bahwa alam hanya hidup dalam keadaan keseimbangan dinamik dan hanya mampu menerima perubahan-perubahan kecil. Kaum Environmentalis percaya kegiatan umat manusia yang begitu luas telah mendorong biosfir tidak lagi dalam keadaan seimbang seperti gejala penurunan biodiversitas dan perubahan iklim.
Konsekuensi dari cara pandang ini adalah ideologi peradaban barat telah menyebabkan hilangnya sumber-sumber kehidupan. Inilah yang melahirkan kebutuhan paradigma baru seperti Deep Ecology yang mampu menjadi panduan kegiatan manusia menghindari kerusakan lingkungan yang lebih buruk.

Frasa “deep ecology” diungkap oleh Filsuf Norwegia Arne Naess pada 1972 dan ia kemudian memberikan sebuah landasan teorinya. Naess menolak gagasan bahwa segala sesuatu bisa di-ranking sesuai nilai nilai relatifnya. Seperti, manusia dinilai lebih tinggi dari binatang. Ia menyatakan semua bentuk kehidupan berhak hidup di dunia. Tak ada satu pun spesies yang memiliki hak lebih dari spesies lain. Deep Ecology memperoleh dukungan ilmiah dari lapangan ilmu ekologi dan sistem dinamis. Naess tidak menggunakan logika induksi dalam menyampaikan filsafatnya tetapi secara langsung masuk pada metafisika termasuk gagasan tentang “self”. Salah satu pikiran berpengaruh pada deep ecology adalah “Hipotesis Gaia”.

Manusia bagian dari bumi dan tak terpisahkan Pokok spiritualitas Deep Ecology adalah spesies manusia bagian dari bumi dan tidak terpisahkan. Sebuah proses realisasi diri atau “re-earthing” digunakan bagi seseorang untuk memperoleh intuisi perspektif ekosentrik. Gagasannya adalah selama kita mampu meregangkan kedirian kita dan kemudian menemukenali pihak lain (manusia, binatang, ekosistem), kita akan semakin mengenal diri sendiri (transpersonal).

Tradisi lain yang mempengaruhi Deep Ecology adalah Taoisme dan Buddhisme, terutama karena ajaran ini tidak mengenal pendekatan dualisme dalam memandang obyek dan subyek. Dalam kaitannya dengan tradisi agama-agama besar lainnya, Naess berpandangan pada ajaran ini manusia tetap dinilai superior atas alam.
Deep ecology memperhatikan masalah-masalah yang berdampak jangka panjang, terutama terkait pertanyaan tentang perang dan perdamaian sebab bencana ekologi akibat ulah manusia dan perang nuklir, misalnya, akan menyebabkan kehancuran luar biasa.
Delapan prinsip dasar deep ecology (Sessions, 1995):
1. Keberadaan dan perkembangan kehidupan manusia dan benda-benda lain diluar manusia mempunyai nilai sendiri-sendiri yang tidak berkait dengan asas manfaatnya bagi manusia.
2. Kekayaan dan keberagaman bentuk-bentuk kehidupan akan mendukung realisasi dari nilai-nilai tersebut diatas.
3. Manusia tidak mempunyai hak untuk mengurangi kekayaan dan keberagaman bentuk-bentuk kehidupan tersebut, kecuali untuk memenuhi kebutuhan yang vital.
4. Perkembangan kehidupan manusia dan budayanya harus dapat diterima secara substansial dalam populasi manusia yang lebih kecil. Perkembangan kehidupan diluar manusia membutuhkan dukungan populasi manusia juga.
5. Gangguan keberadaan manusia kepada kehidupan diluar manusia semakin lama akan makin memburuk.
6. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kebijakan / ideologi harus diubah tidak lagi didasarkan pada struktur ekonomi dan teknologi.
7. Perubahan ideology yang terutama adalah “menghargai kualitas hidup”, bukan sekedar menaikkan standar kehidupan.
8. Siapapun mempunyai kewajiban untuk segera melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Jadi, simpulannya Deep Ecology memusatkan perhatian kepada seluruh spesies, termasuk spesies bukan manusia. Deep Ecology juga tidak memusatkan pada kepentingan jangka pendek, tetapi jangka panjang. Maka dari itu, prinsip moral yang dikembangkan Deep Ecology menyangkut seluruh kepentingan komunitas ekologis. Deep Ecology mengutamakan prinsip-prinsip moral etika lingkungan yang harus diterjemahkan dalam aksi nyata. Etika lingkungan menyangkut suatu gerakan yang jauh lebih dalam dan komprehensif dari sekadar sesuatu yang amat instrumental dan ekspansionis, merupakan gerakan nyata, yaitu perubahan cara pandang, nilai dan perilaku atau gaya hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAUR / SIKLUS NITROGEN

DAUR / SIKLUS NITROGEN Nitrogen  adalah unsur yang paling berlimpah di atmosfer (78% gas di atmosfer adalah  nitrogen ). Meskipun demik...